Chinese Government Scholarship

Gambar diunduh dari sini

Ni hao.. 🙂 . Apakah Anda tertarik menuntut ilmu ke China? Apakah Anda ingin menelusuri jejak nenek moyang Anda di daratan China? Apakah Anda ingin belajar bahasa Mandari di China? Atau malah mencari jodoh keturunan China? lagi curcol ceritanya.

Mengapa China bisa dijadikan pilihan sebagai negara untuk melanjutkan studi Anda? Sila disimak di mari. 🙂

Baiklah, saya akan berbagi sekelumit informasi mengenai suatu beasiswa yang sangat menarik untuk diperjuangkan. Chinese Government Scholarship (CGS)! Beasiswa ini diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah China, khususnya Chinese Scholarship Council yang diberi mandat oleh Ministry of Education (MoE). Beasiswa ini (Chinese Govenrment Scholarship) mencakup full-scholarship dan partial-scholarship. Untuk informasi lebih lengkap mengenai beasiswa ini dan universitas-universitas  bisa ditengok di sini.

Beberapa benefit yang didapatkan dari beasiswa ini (bagian full-scholarship) yaitu :

  1. Bebas biaya registrasi, bebas uang kuliah (sesuai dengan masa kuliah yang sudah disepakati), bebas biaya magang, dan gratis fasilitas asrama
  2. Mendapatkan satu kali subsidi biaya hidup setelah melakukan registrasi mahasiswa baru
  3. Mendapatkan subsidi asuransi kesehatan
  4. Untuk mahasiswa jenjang Sarjana/Chinese language mendapat uang saku sebesar 2500 CNY/bulan, mahasiswa jenjang Master, mendapat uang saku 3000 CNY/bulan. dan mahasiswa jenjang Doctor mendapat uang saku 3500 CNY/bulan.

Durasi beasiswa ini tergantung pada jenjang pendidikan yang dipilih. Untuk Sarjana, durasi beasiswa 4-5 tahun. Pada jenjang Master, durasi beasiswa 2-3 tahun, sedangkan untuk Doktor, durasinya 3-4 tahun. Beberapa universitas menyediakan program-program Master dan Doktor dengan bahasa pengantar Mandarin atau Inggris. Bila Anda mendaftar program dengan bahasa pengantar Mandarin, pihak universitas akan memberikan kursus persiapan bahasa Mandarin GRATIS selama 1-2 tahun sebelum Anda memulai perkuliahan. Anda tidak perlu mengikuti kursus persiapan bahasa Mandarin bila Anda memiliki nilai HSK tertentu. Kalau saya memilih kelas dengan bahasa pengantar Inggris 😀

Sebelum mendaftar beasiswa, ada dokumen-dokumen yang harus disiapkan oleh calon pendaftar. Eits, ciptakan mindset bahwa segala persyaratan itu tidak rumit. Take it easy ;). Ini dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan dan sedikit keterangan tambahan dari saya.

  1. Application Form for Chinese Government Scholarship (filled in Chinese or English) Those who are available for online application shall fill in and print the application form after submitting it online. The CSC Online Application System for Study in China is available on http://laihua.csc.edu.cn .
  1. Highest diploma (notarized photocopy): University students or applicants employed shall also provide proof of studying or employment on application. Documents in languages other than Chinese or English must be attached with notarized translations in Chinese or English. Beberapa universitas di Indonesia, baik negeri maupun swasta, memberikan ijazah dan transkrip nilai dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Silahkan dicek langsung ke universitas Anda ya 🙂
  2. Academic transcripts (notarized photocopy): Transcripts in languages other than Chinese or English must be attached with notarized translations in Chinese or English.
  3. A study or research plan. All applicants are required to submit a study or research plan. It must be in Chinese or in English. Applicants for music studies are requested to submit a CD of the applicants’ own works. Applicants for fine arts programs must submit a CD of the applicants’ own.Study atau research plan ini sejenis proposal penelitian yang ingin Anda lakukan pada jenjang studi yang akan Anda ambil. Tampak sepele, tapi menurut saya, pihak pemberi beasiswa dan universitas bisa memberi Anda penilaian dari kerangka berpikir study/research plan yang Anda tulis. Setidaknya, untuk program Master dan Doktor, minimal 800 kata (tidak termasuk daftar pustaka).
  4. Recommendation letters: Applicants for postgraduate studies must submit two letters of recommendation in Chinese or English from professors or associate professors. Cukup jelas ya, dua surat rekomendasi. Oya, kata dosen saya yang S2 di Jerman, istilah “professor” di luar negeri tidak harus mengacu pada seseorang bergelar profesor. Asal seseorang memiliki mahasiswa/anak didik alias dosen, sudah bisa disebut “professor”. Saya sendiri meminta rekomendasi dari dosen pembimbing akademik dan dosen pembimbing skripsi yang masing-masing bergelar Doktor. Berikut ini saya lampirkan contoh format recommendation letter dari kampus saya dulu Recommendation Letter
  5. Photocopy of Foreigner Physical Examination Form (The original copy should be kept by the applicant. The form printed by Chinese quarantine authority could be downloaded from http://www.csc.edu.cn). The medical examinations must cover all the items listed in the Foreigner Physical Examination Form. Incomplete records or those without the signature of the attending physician, the official stamp of the hospital or a sealed photograph of the applicants are invalid. Please select the appropriate time to take medical examination due to the 6-months validity of the medical results. Bila Anda kesulitan untuk mendapatkan formulir ini, Anda bisa meminta kepada saya :). Physical Examination ini menuntut Anda harus melakukan beberapa tes kesehatan, seperti : tes Radiologi, tes Kardiologi, dan tes darah (meliputi : anti-HIV,  RPR, TPPA, HbsAg, AntiHCV, ALT/GPT). Perlu diketahui, China tidak menerima warga negara asing yang memiliki penyakit TBC, AIDS, penyakit (maaf) kelamin, dan hepatitis. Silahkan klik gambar di bawah ini untuk mendownload form medical check-up (akan terhubung ke link Dropbox) .KLIK

Oiya,  pastikan Anda sudah memiliki paspor sebelum mendaftar CGS ini karena ada kolom yang meminta untuk diisi dengan nomor paspor Anda.

Ada dua cara untuk mendaftar beasiswa ini. Yaitu, mendaftar melalui kedutaan besar China yang berlokasi di Jakarta, atau mendaftar melalui universitas yang dijadikan pilihan pertama. Saya sendiri mengambil cara kedua, yaitu melamar melalui universitas pilihan pertama. Sejenis UMPTN, kita mencantumkan tiga alternatif pilihan universitas. Misalnya saya, tahun ini saya mencantumkan : (1) Huazhong Agricultural University, (2) China Agricultural University, dan (3) Northwest Agricultural&Forestry University. Sehingga saya mengirim dokumen lamaran ke nomer 1, yaitu Huazhong Agricultural University. Cara ini memang cukup menelan biaya pengiriman ke China. Namun, beberepa sumber mengatakan, peluang untuk mendapatkan beasiswa lebih besar daripada melamar melalui kedutaan besar. Kedubes China pun menganjurkan hal serupa. Sebaiknya Anda menanyakan langsung ke universitas tujuan Anda mengenai informasi yang ingin Anda ketahui mengenai cara pendaftaran CGS, nomer agensi universitas tujuan, dan deadline pendaftaran. Setiap universitas memiliki deadline yang berbeda-beda.

Setelah Anda mempersiapkan segala jenis dokumen yang dibutuhkan, kirim segera lamaran Anda, dan mulai menantilah :D. Saya mengirim dokumen lamaran saya sekitar pertengahan Maret 2012. Baru pada tanggal 10 Juni, saya mendapat interview dari universitas. Kemudian pada tanggal 12 Juni, saya mendapat pengumuman. Sebagai informasi Anda, saya gagal mendapatkan CGS :D. Namun, syukur alhamdulillah, saya mendapatkan Huazhong Agricultural University Scholarship, full-scholarship dari universitas pilihan pertama saya 🙂

Nah, bila Anda berhasil mendapatkan CGS, pihak universitas yang menerima Anda, akan mengirimkan kepada Anda dokumen-dokumen penting, yaitu : Admission Notice dan JW202/JW201 (Visa Application Form). Kedua jenis dokumen ini berstempel dari Ministry of Education. Tanpa kedua dokumen ini, jangan harap Anda bisa memproses pembuatan Visa X (visa pelajar).

Bagaimana? Anda berminat melanjutkan studi ke China? Mari menuntut ilmu sampai ke Negeri China! 🙂

NB:

  • Sebelum menanyakan sesuatu, ada baiknya kawan-kawan membaca komentar-komentar sebelumnya. Siapa tau sudah pernah ada pertanyaan yang sama. Terima kasih 🙂

Patah Hati

Ada pepatah yang mengatakan, “Semakin kita mencintai sesuatu, semakin besar rasa sakit patah hati yang akan ditimbulkan.” Ya, itu memang benar. sekali lagi aku merasakan patah hati..

Sekitar tahun lalu, aku mulai mencintainya. Diawali dari perkenalan yang tidak sengaja. Kemudian aku mencari-cari informasi seputar dia, mengirim surat elektronik dari jarak jauh, sedikit bercakap-cakap, sehingga akhirnya aku jatuh cinta. Sungguh, belum pernah sekali pun aku bertatap muka dengan dia. Hanya mencari-cari informasi seputar dia lewat suatu media berjudul internet.

Aneh memang, mengapa aku bisa jatuh cinta padanya. Satu alasan klise yang bisa dijadikan alasanku jatuh cinta padanya adalah apa yang aku butuhkan, dia menyediakan. *padahal menurutku, tidak perlu alasan remeh-temeh untuk dijadikan alasan dalam jatuh cinta*. Semakin aku mengenal dia, semakin aku jatuh cinta, semakin besar keinginan aku untuk mendapatkannya. Tak berapa lama setelah mengenal dia, aku putuskan, “Aku harus mendapatkannya!”

Aku menunggu waktu yang tepat untuk bisa berjuang mendapatkan dia. Sewaktu aku jatuh cinta, aku masih terbebani ini-itu, sehingga aku harus menyelesaikan semua beban itu sebelum aku berjuang. Awal tahun 2012 adalah waktu yang tepat untuk memulai sepak terjang mendapatkannya. Ah, aku memberinya nama sayang, “Cinta Gue”. Manis bukan?

Baru kali ini aku jatuh bangun mengejar “Cinta Gue”. Siang malam aku berdoa, semoga semesta meng-amin-i keinginanku untuk mendapatkannya. Setiap hari aku habiskan untuk berusaha mendapatkannya! Panas, hujan, gerimis, polusi, jarak jauh, lelah, ku lahap semua! Tahun ini, ku harus mendapatkan “Cinta Gue”! Bagaimana pun caranya!

Tau kah kau kawan, saat kau terlalu mencintai sesuatu, saat kau terlalu menginginkan sesuatu, lambat laun kau akan menjadi terobsesi, naïf, dan posesif! Itulah yang terjadi padaku. Semakin aku berjuang, semakin aku berusaha, semakin aku memeras keringat, semakin rentanlah jiwaku. Sedikit tanggapan darinya, berdampak besar untukku. Aku hanya menatapnya, benar-benar menatapnya. Aku mau dia!

Aku mengabaikan fakta yang ada, bahwa banyak pilihan lain selain dia, yang mungkin lebih pantas untukku. Kalau pun aku tertarik kepada selain dia, itu hanya sebatas “melihat-lihat”. Tubuhku, pikiranku, jiwaku, sudah diracuni oleh dia.

Setelah aku yakin dengan segala persiapan, bulan ketiga tahun ini, aku dengan gagah berani mengiriminya surat cinta. Tak hanya surat cinta, tapi berisi lamaran. Benar, aku melamarnya! Tekadku adalah tahun ini aku bisa bersanding dengan dia. Mimpiku adalah bisa menikmati musim gugur bersama dia. Cinta membuat aku gila!

Jarak  yang jauh membentang menyebabkan lamaran tersebut sampai dalam waktu yang tidak singkat. Akhir bulan ketiga, aku menanyakan padanya, “Sudah sampai kah lamaranku untukmu, Cinta?”. Duhai, hanya untuk mengetahui sampai-tidaknya lamaran itu, hatiku sudah meradang! “Sudah sampai, Pujangga. Namun, tak kulihat ada sehelai kertas merah jambu seperti yang kau sampaikan.” Ugh! Aku pun kalang  kabut. Bagaimana bisa di dalamnya tak ada lembar yang maha penting itu? Sedangkan di situ lah lamaranku untuknya tertulis! “Benarkah Cinta? Ku rasa, aku sudah memeriksanya ribuan kali sebelum ku kirim lewat orang kepercayaanku.” “Ah, maafkan aku, Pujangga. Ternyata aku salah membaca surat. Suratmu sudah ku terima. Utuh. Kini, mau kah kau menunggu apa jawabku?”

Lumer hati ini. Ternyata lamaranku untuknya, sudah sampai dengan aman. Namun, aku menjadi cemas, sepertinya bukan hanya aku yang melamar dia. Wajar saja, rupa indah sepertinya, siapa yang tak tergoda? Dalam hati, aku berdoa, “Pilih aku, Cinta.”. Singkat cerita, setelah itu aku tak berani bertanya padanya, kapan dia akan memberi jawaban atas lamaranku. Kalimat-kalimat doa pun mulai beruntun lebih panjang dari gerbong kereta…

80 malam setelah aku berani melamarnya   

Tak terhitung berapa banyak orang-orang yang yang paksa untuk ikut mendoakanku, supaya lamaranku diterima! Tak perlu pula aku ceritakan penyakit-penyakit aneh yang menyerang tubuhku akibat depresi dalam penantian. Dia masih saja diam.

Hari kesekian, aku mendengar kabar dari teman-temannya yang ku kenal. Kata mereka, dia cinta aku. Namun, orangtua “Cinta Gue” itu, ternyata tidak rela bila aku menyandingnya.  Satu depa di sebelahku, ada calon pengganti “Cinta Gue”, pilihan orangtuaku.

Dan detik ini, aku masih mengurung diri, menanti sederet baris balasan dari “Cinta Gue” tentang penolakan atau apalah, sembari sibuk melapangkan dada yang entah mengapa menjadi lebih sulit saat bernapas.

Aku Ngga’ Ngerti

Eaa, maaf maaf nih,, tulisan dibawah ini ga ada hubungannya dengan kegalauan lagu milik Kahitna, “Ga Ngerti”. Postingan ini tentang sesuatu yang berputar-putar di kepala saya sejakkkk lama. Ati-ati ga pentingnya lho ya

Apa sih yang bikin “aku ngga’ ngerti”? Jawabannya adalahhh… POSE BERFOTO SAMA KAMERA MILIK SENDIRI! Hehehe,, bukannya sinis tapi iri karena ga punya SLR lho ya. Cuma, di antara ratusan pose foto yang pernah saya lihat, pose ini paling bikin nggak ngerti dengan masuk si model yang difoto. Ngerti nggak yang saya maksud? halah mbulet ae, nggak ngerti, ngerti nggak. Pose megang kamera SLR terus kaya lagi moto apa gitu. Berkali-kali mikir, tapi nggak nangkep apa maksudnya dari pose foto kayak gitu.

  1. Mau menginfokan pada jagat raya kalo modelnya adalah fotografer yang megang kamera secara bener?
  2. Atau lagi promosi SLRnya? yang okeh bhanget loh pake sisipan dan akhiran “h” biar manthep 
  3. Atau malah mau pamer kalo si model adalah fotografer handal dan doi punya kamera yang bisa mendukung performanya?

Ya semoga siapa aja yang memilih pose seperti itu ga terselip niat-niat mau pameran lah ya. Walo sebenernya IMO pose ini serba nanggung keknya. Wajah model ga keliatan seutuhnya, tampilan kamera juga ga seluruhnya. Hehehe,, kok jadi keliatan sinisnya 😀

Anyway busway transjakarta, sekian saja acara diskusi rasan-rasan pagi ini padahal postingan pertama bilang kalo jangan rasan-rasan. yok opo seh mbak. Bagi pembaca budiman yang kiranya bisa mengurai benang-benang ketidakmengertian dalam pikiran saya mengenai hal ini, monggo dijabarluaskan. Jadi besok lusa saya bisa maklum gitu kalo ngliat pose foto seperti itu. 😀 padahal jawabannya sederhana, “Suka-suka gue dong! Foto-foto gue, kamera-kamera gue, kok elu yang bawel?!”

Maaf ya bagi yang tersinggung. Keterbatasanku bikin aku ngga’ ngerti sama selera kamu.. 😦

Kenapa kelapa?

Iya, kenapa ya kelapa? Kenapa blog ini beralamat kenapa kelapa? My answer is very-berry simple. Karena aku suka sama kelapa! Bukan berarti tiap hari eike makan kelapa ya nek.. Saya suka kelapa, karena filosofinya. *ejiee ga sia-sia lah ya 4 taunan kuliah pertanian*. 

Pohon kelapa, coconut palm. Cocos nucifera, bisa hidup di lokasi manaaa aja. Baik dataran rendah, maupun dataran tinggi. Pinggir pantai ada pohon kelapa, di lembah gunung juga bisa nemu kelapa, di perumahan desa ada kelapa, di perumahan elite juga ada kelapa (kelapa mini tea) *soal potensi produksinya gimana, kumaha engke lah ya. Yang penting numbuh dulu* . Coba dikitik-kitik, eh, ditilik-tilik. Bagian mana dari pohon kelapa yang ga bermanfaat? Mulai dari ujung rambut sampe ujung kaki, makhluk hidup satu ini sangatlah bermanfaat, sodara. Kalo mau tau manfaatnya apa aja, bisa hubungi saya, nanti saya kirimin materi kuliah saya jaman baheula yang judulnya “KELAPA”. 😀

Intinya sih, saya pengen menjadi makhluk hidup yang bermanfaat, seperti pohon kelapa. Semoga blog ini juga bisa memberi manfaat seperti si Cocos nucifera. Mohon diingatkan kalo isi blognya mulai merepet ke arah nggosipin orang, ngomongin kejelekan orang, pamer-pamer, yang gitu-gitu deh. Aku mau jadi orang baik-baik, Kakak! Mohon bantuannya ya pembaca! 🙂

Image

Pohon Kelapa